Pada tahun 1965, tepatnya sejak awal bulan Oktober sampai dengan awal tahun 1966, ratusan ribu orang-orang komunis dan mereka yang dituduh komunis telah menjadi korban pembantaian massal di berbagai tempat di Indonesia. Jumlah korban diperkirakan mencapai antara 500.000 sampai satu juta orang.[1] Propinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali—yang sebelumnya menjadi basis kuat dukungan kekuatan komunis di Indonesia—menjadi arena pembantaian paling buruk di seluruh Indonesia.[2] Peristiwa yang terjadi dengan demikian melengkapi catatan sejarah kekerasan dunia pada abad ke-20. Seperti dikatakan dalam laporan yang dibuat CIA—musuh utama korban—yang menyebutkan “the anti-PKI massacres in Indonesia rank as one of the worst mass murders of the twentieth century, along the Soviet purges of the 1930s, the Nazi mass murders during the Second World War, and the Maoist bloodbath of the early 1950s…”[3]
[1] Sudah pasti hampir mustahil mendapatkan sebuah angka statistik yang memuaskan mengenai besarnya korban mengingat buruknya statistik kependudukan Indonesia saat itu dan terbatasnya data-data yang tersedia. Laporan resmi pemerintah, seperti disampaikan oleh Tim Pencari Fakta yang dibentuk pada tahun 1966, memberikan angka yang sangat rendah dengan perkiraan sekitar 74,000 orang tewas.
[2] Geoffrey Robinson dalam studinya mengenai sejarah kekerasan politik di pulau Bali menyebutkan bahwa dari segi proporsi korban dan penduduk, Bali menjadi tempat kekerasan paling besar dibanding tempat-tempat lainnya di Indonesia. Lihat Geoffrey Robinson, The Dark Side of Paradise:
[3] Central Intelligence Agency, Directorate of Intelligence Report: Indonesia-1965, the coup that backfired. Washington DC: Central Intelligence Agency. 1968. p. 71n.
Kamis, 21 Juni 2007
Langganan:
Postingan (Atom)